• Agama Islam
  • Artikel PKN
  • Kesehatan
  • Belajar English
  • Kisah Islami
  • Trend Berita
  • Ruang Pribadi
  • 1/21/2014

    Anakku, Janganlah Suka Menunda Shalat di Akhir Waktu

    Anakku, Janganlah Suka Menunda Shalat di Akhir Waktu

    Dia ingat nasehat ibunya tentang shalat tepat waktu : "Anakku, janganlah suka menunda shalat di akhir waktu".

    Usia Ibunya adalah 45 tahun, kapanpun ia mendengar suara Adzan memanggil, dia akan langsung bangkit seperti anak panah dan cepat-cepat melaksanakan Shalat. Sedangkan dia sebagai anaknya, tidak pernah bisa meniru kebiasaan ibunya.

    Apapun yang sedang dia lakukan, Shalatnya selalu dilaksanakan tergesa-gesa di akhir waktu. Terkadang ia merasa malu bila membandingkan shalatnya dengan shalat ibunya. Dia selalu shalat dengan tergesa-gesa di akhir waktu, sedangkan ibunya selalu shalat dengan penuh ketenangan dan kedamaian di awal waktu.

    Suatu hari, sepulang dari sekolah, seperti biasanya dia melaksanakan shalat dzuhur di akhir waktu, karena merasa sangat lelah, dia tertidur di atas sajadah seusai shalatnya dan bermimpi.


    Dalam mimpinya, ia tiba-tiba terbangun karena mendengar suara bising dan teriak-teriakan. Keringatnya mengucur deras. Lalu ia melihat ke sekelilingnya. Sangat ramai sekali. Banyak orang di setiap arah yang dilihatnya. Ada yang berdiri kaku, ada yang berjalan ke kiri dan ke kanan, ada pula yang berlutut sambil menunggu. Dia merasa sangat takut ketika menyadari di mana sekarang dia berada. Itu adalah Yaumil Hisab (Hari Perhitungan Amal).

    Ketika masih hidup, ia sering mendengar banyak hal tentang pertanyaan pada hari penghakiman. dan sekarang dia sedang menunggunya dengan perasaan sangat takut. Interogasi masih berlangsung. Diapun mulai bergerak panik menanyakan apakah namanya sudah disebut? Tapi tidak ada yang bisa menjawabnya. Tiba-tiba namanya dipanggil. Kerumunanpun terbelah menjadi dua dan membentuk sebuah lorong baginya.

    Dua orang malaikat meraih tangannya dan membawanya ke depan. Ia berjalan penuh tanda tanya melewati kerumunan. Sesampainya di depan, para malaikat meninggalkannya di sana. Kepalanya menunduk, seluruh peristiwa dalam hidupnya terlintas di depan matanya seperti sebuah film. Dia melihat ayahnya menyampaikan kuliah dari satu tempat ke tempat yang lain, membelanjakan harta di jalan Allah. Dia melihat ibunya membantu orang lain yang kesusahan, dan diapun berkata dalam hatinya, "Aku juga selalu di jalan ini. Aku membantu orang lain. Aku juga menyampaikan firman Allah, selalu melaksanakan shalat, dan aku berpuasa di bulan Ramadhan. Apapun yang Allah perintahkan, aku selalu melaksanakannya dan apapun yang dilarang oleh Allah, aku selalu meninggalkannya". Dia mulai menangis dan berpikir betapa ia sangat mencintai Allah.

    Tapi dia tahu bahwa berapapun banyak amal kebaikan yang dilakukan selama hidup akan selalu kurang untuk menjadi bekal di akhirat. Hanya Allah lah satu-satunya penolong dan pelindungnya. Dia berkeringat seperti sebelumnya dan gemetar seluruh tubuhnya menunggu keputusan akhir.
    Keputusan itu akhirnya dibuat. Kedua malaikat dengan selembar kertas di tangan mereka, menghadap kepada orang-orang yang sedang menunggu. Mereka membacakan nama-nama orang yang akan dimasukkan ke dalam Jahannam. Dan namanya disebut di urutan pertama.

    Dia merasa kakinya seperti lumpuh. Dia terjatuh berlutut dan berfikir bahwa ini tidak mungkin. Dia berteriak "Bagaimana bisa aku pergi ke Jahannam? aku selalu membantu orang lain selama hidupku, Aku selalu menyampaikan ayat-ayat Allah. Bagaimana mungkin aku harus masuk ke dalam neraka Jahannam?"

    Matanya menjadi kabur, tubuhnya gemetar dan berkeringat. Kedua malaikat meraih kakinya dan menyeretnya. Mereka membawanya ke arah api yang menyala-nyala. Dia berteriak sekeras-kerasnya meminta tolong. Dia meneriakkan semua amal kebaikan yang pernah dilakukan, bagaimana ia membantu ayahnya , puasa, shalat, Al-Qur'an yang ia baca, ia menanyakan apakah tidak ada satupun dari amalan-amalan itu yang dapat menolongnya.

    Malaikat terus menyeretnya menuju Jahannam. Semakin dekat dan semakin mendekat. Dia menoleh ke arah malaikat itu dan menyampaikan permintaan terakhirnya. "Bukankah Rasulullah SAW bersabda" :
    “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)"

    Diapun kemudian berteriak "Shalat ku!! Shalat ku!!"

    Kedua malaikat itu tidak berhenti menyeretnya, mereka pun akhirnya sampai ke tepi jurang Jahannam. Dia kembali melihat ke arah malaikat untuk terakhir kalinya, tapi matanya kering, harapannya telah habis. Salah satu malaikat mendorongnya, dan Dia pun meluncur jatuh ke dalam jurang yang di bawahnya terdapat api yang menyala-nyala.

    Dia baru saja jatuh lima atau enam kaki ketika sebuah tangan mencengkeram erat lengannya dan menariknya kembali. Dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria tua berjanggut putih dan panjang.

    Dia membersihkan debu-debu Jahannam dari tubuhnya dan bertanya "Siapa engkau?"

    Orang tua itu menjawab , "Aku adalah shalat mu"
    "Mengapa kau begitu terlambat! Aku hampir saja tersentuh api neraka ! tapi engkau menyelamatkanku pada menit terakhir sebelum aku jatuh"
    Orang tua itu tersenyum dan menggeleng "Kamu juga selalu menempatkanku pada menit-menit terakhir, apakah kamu lupa?"

    Pada saat itu, ia terkejut dan terbangun dari tidurnya. Tubuhnya penuh keringat. Sayup-sayup terdengar suara Adzan di luar. Dia segera bangkit mengambil air wudhu dan segera berangkat untuk melaksanakan Shalat berjamaah. Dia merasa jera untuk menunda-nunda shalat.

    Related Posts
    Disqus Comments