• Agama Islam
  • Artikel PKN
  • Kesehatan
  • Belajar English
  • Kisah Islami
  • Trend Berita
  • Ruang Pribadi
  • 3/12/2014

    Kandungan Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 tentang Kerusakan Alam

    Kandungan Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 tentang Kerusakan Alam

    Pada kesempatan kali ini kami akan memposting Kandungan Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 tentang Kerusakan Alam.

    ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١ قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ ٤٢

    Terjemahan dari surat Ar-Rum ayat 41-42 itu sendiri adalah sebagai berikut :

    Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: 'Lakukanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".


    Ayat ini mengemukakan pertentangan antara tauhid dan syirik. Ajaran tauhid berkaitan dengan tanda-tanda kekuasaan Allah. Tauhid berarti keesaan Allah. Ajaran syirik menunjukkan sebaliknya, yakni enggan meyakini kekuasaan Allah. Orang yang jiwa tauhidnya rapuh pasti cenderung berbuat kerusakan. Jadi, hubungan antara kuatnya tauhid dan kebaikan moral sangat erat. Rapuhnya tauhid menjadikan seseorang bermental buruk. Salah satunya berwatak perusak (al-fasid).

    Ayat ini menyuguhkan beberapa kesimpulan menarik, antara lain adalah sebagai berikut :

    1. Kerusakan fisik alam (ekologi) dan sistem (ekosistem) terjadi karena ulah manusia. Kerusakan ini seolah menjadi bukti kekhawatiran para malaikat bahwa manusia akan melakukan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah.

    Allah menjamin, jika manusia berilmu dan tahu akibat dari apa yang diperbuatnya, ia tidak akan melakukan kerusakan. Namun, manusia adalah makhluk pembangkang dan zhalim. Allah menyebut manusia. berwatak demikian sebagai Aladdul Khisham, penentang yang paling keras. Ia selalu berpaling dari kebenaran dan merusak bumi (QS al-Baqarah, 204-205).

    Tindakan merusak lingkuangan hidup merupakan salah satu sifat fasik. Sifat fasik lainnya, melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan. Allah kepadanya.

    Kerusakan karena ulah manusia ini terjadi darat dan laut. Betapa banyak wilayah pantai yang rusak dan hilang keindahan alamnya oleh kerakusan manusia. Terumbu karang atau keindahan alam bawah laut pun sudah rusak parah. Padahal, semua itu memberi keuntungan eko.nomi dan ekologi yang sangat besar bagi manusia.

    2. Setiap muslim diberi wewenang (otoritas) untuk memilih jalan hidupnya. Namun, jalan hidup apa pun pasti mendatangkan risiko.

    Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan fika kamu berbuat jahat, kejahatan itu bagi dirimu sendiri (QS al-Isra', 17 : 7).

    Dengan penegasan ayat itu, Allah ingin menerapkan sistem reward (hadiah) dan punishment (hukuman) kepada manusia. Ketika manusia menuruti hawa nafsunya dan mengabaikan keseimbangan ekosistem, akibatnya pasti ia rasakan. Akibat itu akan meluas dan menyedihkan hatinya. Kata Allah: Supaya mereka merasakan sesuatu akibat perbuatannya agar mereka kembali ke jalan yang benar.

    Dalam pendidikan, pemberian hadiah dan hukuman merupakan cara yang paling efektif. Cara ini dapat menyadarkan seseorang bahwa setiap pribadi harus bertanggung jawab atas perilakunya. Ini sesuai dengan peribahasa: "Berani berbuat harus berani bertanggung jawab". Semangat ini harus terus dimunculkan kembali untuk membangun sikap tanggung jawab.

    Rusaknya lapisan Ozon (O3), tercemarnya air oleh limbah industri; dan sulitnya menghirup udara yang bersih dan sehat merupakan bentuk kerusakan karena ambisius manusia. Memang, "hanya" segelintir orang yang melakukan tindakan ini. Namun, akibat yang ditimbulkannya berskala global.

    3. Allah menyuruh manusia untuk mengamati dan memperhatikan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Perintah pengamatan ini bukan semata-mata melihat peristiwanya, melainkan juga melihat hikmah di balik peristiwa itu. Jadi, seorang mukmin harus melihat ada apa di balik peristiwa itu. Ia harus bertanya: Mengapa peristiwa ini bisa terjadi? Apakah penyebabnya? Siapa yang dapat menciptakan peristiwa yang sangat aneh ini? Apa tujuan di balik peristiwa ini? Apa yang harus dilakukan supaya peristiwa itu tidak terulang?

    Kalimat "lakukanlah perjalanan di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu" merupakan kalimat cerdas. Dengan kalimat itu, Allah menuntut setiap muslim untuk bersikap cerdas. Dengan perintah itu Pula, kita dituntut untuk banyak meneliti, bersikap kritis, dan mengaitkan sebuah persoalan dengan persoalan lain atas dasar iman kepada Allah.

    Related Posts
    Disqus Comments