• Agama Islam
  • Artikel PKN
  • Kesehatan
  • Belajar English
  • Kisah Islami
  • Trend Berita
  • Ruang Pribadi
  • 3/30/2014

    Makna Kitab Allah

    Makna Kitab Allah

    Kata "Kitab" berasal dari kataba:yaktubu, artinya menulis atau menetapkan. Jadi, makna Kitab Allah adalah tulisan­-tulisan berupa aturan, ketetapan, larangan, perintah, peringatan, kabar gembira, dan ancaman Allah bagi kehidupan manusia dan jin. Jin dan manusia adalah dua makhluk Allah yang dibebani kewajiban.

    Kitab ini diwahyukan oleh Allah melalui malaikat bernama Jibril. Ia bertugas mengantarkan wahyu kepada orang yang dipilih Allah sebagai pembawa risalah. Proses penurunan kitab disebut sebagai pewahyuan. Jibril itu telah menurunkan Alquran ke dalam hatimu dengan izin Allah (QS al-Baqarah, 2 : 97).

    Lalu, apakah wahyu itu? Wahyu berarti al-`isyaratu sari'ah, isyarat yang melesat sangat cepat. Isyarat ini bisa berupa ucapan, tanda, lambang atau simbol. Wahyu juga bisa berupa penampilan, terdengarnya suara, dan gerakan anggota badan.

    "Wahyu" berupa isyarat pernah diterima oleh Nabi Zakariyya A.S., yakni berupa ar-ramza, bahasa isyarat. "Ia keluar dari mihrab menuju kaumnya. Lalu, ia memberi isyarat kepada mereka, hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang" (QS Maryam, 19 : 11).


    Wahyu adalah penyampaian pesan yang dikirimkan secara tersembunyi. Kejadiannya, sangat cepat yang khusus ditujukan kepada seseorang dan disembunyikan dari lainnya. "Wahyu" bisa berarti Ilham. Apakah ilham itu? Lintasan pikiran yang Allah turunkan kepada seseorang seperti Ummi Musa. Wahyu juga bisa berarti bisikan. Sungguh, setan itu yuhuuna (membisikkan) kepada kawan­-kawannya agar mereka membantahmu (QS. al-An'am, 6 : 112).

    Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki (QS. asy-Syura, 42 : 51).

    Ayat tersebut memperlihatkan tiga makna wahyu:
    • Menjelmanya makna di dalam hati yang biasa diartikan sebagai tiupan ke dalam hati;
    • Perkataan yang disampaikan dari belakang tabir, yakni terdengarnya kalam Allah dari tempat yang tidak bisa dilihat seperti seruan yang didengar Nabi Musa AS
    • Wahyu yang dibawa oleh malaikat pembawa wahyu yang diutus Allah kepada Rasulullah SAW. Maka, Rasulullah SAW bisa melihatnya dengan jelas berupa seorang leIaki, atau tidak berbentuk, tetapi Rasulullah SAW mampu mendengarnya.
    Cara Penurunan Wahyu Allah
    Ada dua cara penurunan wahyu Allah kepada para malaikat, antara lain adalah :
    1. Berbicara langsung kepada malaikat, tanpa perantara. Rasulullah SAW memberi ilustrasi tentang bergetarnya bumi saat Allah menurunkan wahyu mengenai suatu urusan. Misalnya, tentang penciptaan malaikat (Qs al-Baqarah, 2 : 30);
    2. Diturunkan ke bait al-`izzah yang berada di langit dunia pada lailah al-qadar di bulan Ramadhan.
    Penurunan wahyu kepada para rasul ada yang melalui perantaraan. Ada pula yang tidak melalui perantara. Perantara wahyu adalah Jibril. Penurunan wahyu secara langsung melalui mimpi yang benar. Kedatangan mimpi yang benar terang-benderang laksana pagi. Mimpi inilah yang menjadi persiapan bagi Rasulullah SAW untuk menerima wahyu. Nabi Ibrahim pernah rnengalami mimpi yang benar.

    Penyampaian wahyu kepada para rasul oleh malaikat dilakukan dalarn dua cara :
    1. Kedatangannya laksana gemerincing lonceng dan suara yang amat kuat. Cara ini termasuk yang paling berat bagi Rasulullah SAW.
    2. Malaikat menjelma menjadi seorang laki-laki, lalu mengajarkan sesuatu. Cara ini termasuk paling ringan karena sesuai dengan keadaan Rasullah SAW.

    You Might Also Like:

    Disqus Comments