• Agama Islam
  • Artikel PKN
  • Kesehatan
  • Belajar English
  • Kisah Islami
  • Trend Berita
  • Ruang Pribadi
  • 12/08/2013

    Delapan Kebohongan Ibu Kepada Anaknya

    Delapan Kebohongan Ibu Kepada Anaknya

    Pada kesempatan ini kami ingin menceritakan tentang kisah yang kami beri judul Delapan kebohongan ibu kepada anaknya

    Aku merupakan seorang anak dari sebuah keluarga miskin di afrika. kami bahkan tidak memiliki cukup makanan. Tapi meskipun demikian, ibu selalu memberikan nasi untukku setiap waktu makan tiba. Sambil menuangkan nasi ke dalam mangkuk, ia biasa mengatakan "makanlah ini nak, aku tidak lapar". itulah kebohongannya yang pertama yang kuingat.

    Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu semakin sering meluangkan waktunya untuk memancing ikan di sungai tak jauh dari rumah kami. ibu ingin menambah nafsu makanku dan memberikan sedikit makanan bergizi bagi pertumbuhanku dengan ikan hasil tangkapannya itu.

    Setelah pulang dari memancing, biasanya ia akan langsung memasak sup ikan. Ketika aku sedang makan sup, biasanya ibu akan duduk di sampingku dan memakan sisa daging yang masih menempel di duri ikan yang telah kumakan. Hatiku merasa tersentuh melihat itu, lalu kuberikan sebagian ikan lainnya kepadanya. Tapi ia menolak dan berkata "Makanlah Nak. Ibu tidak terlalu suka ikan". Itulah kebohongannya yang kedua.


    Ketika aku Memasuki usia Sekolah SMP, ibu membuat kerajinan tangan dari kardus bekas lalu menjualnya ke sebuah toko kerajinan tangan. Dari situlah ibu menghasilkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan kami.

    Ketika musim dingin tiba, aku terbangun tengah malam dan melihat ibuku masih terjaga, membuat kerajinan tangan dengan tekun, hanya ditemani dengan cahaya lilin kecil. Aku berkata "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus pergi bekerja" Ibu tersenyum dan berkata "Pergilah tidur, sayang. Ibu belum lelah" Itulah kebohongannya yang ketiga.

    Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti dari kerjanya untuk menemaniku. Di bawah panas sinar matahari yang menyengat, ibu dengan sabar menungguku yang sedang melaksanakan ujian selama beberapa jam. Dan ketika bel tanda selesai ujian berbunyi, ibu segera menyambutku dan menuangkan secangkir teh dari termos yang dibawanya.

    Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera menuangkan secangkir lagi dan memintanya untuk minum juga. Ibu berkata "minumlah nak, ibu tidak haus" itulah kebohongannya yang keempat.

    Setelah kematian ayah, Ibu harus melaksanakan peran sebagai orang tua tunggal. Dia harus membiayai kebutuhan hidup keluarga. Tetangga kami sering menasehati ibu untuk menikah lagi. Tapi ibu keras kepala dan tidak mau menuruti nasihat mereka, dia berkata "Aku tidak butuh cinta" Itulah kebohongannya yang Kelima.

    Setelah aku menyelesaikan studi dan mendapatkan pekerjaan di luar kota, seharusnya itulah saatnya bagi ibuku untuk pensiun. Tapi dia tidak mau, dia tetap pergi ke pasar untuk menjual sayuran guna memenuhi kebutuhannya setiap hari. Aku yang bekerja di kota lain, sering mengirimkan uang untuk membantunya memenuhi kebutuhan, tapi dia tidak mau menerima uang itu. Bahkan dia sering mengembalikannya dan berkata "Aku punya cukup uang" Itulah kebohongannya yang keenam.

    Setelah lulus dengan gelar Sarjana, kemudian aku mendapatkan beasiswa dari perusahaan untuk melanjutkan studi S2 di Universitas terkenal di Amerika. Akhirnya aku pun mendapatkan gaji yang baik dari perusahaan, dan aku berniat untuk membawa ibu menikmati hidupnya di Amerika. Tapi ibu tidak ingin mengganggu anaknya. Dia berkata "Aku tak bisa hidup di sana" Itulah kebohongannya yang Ketujuh.

    Di usia tua nya, ibu terkena kanker perut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku yang tinggal beberapa mil jauhnya, di seberang lautan, pulang ke rumah untuk menjenguk ibuku. Dia terbaring lemah di tempat tidurnya setelah operasi. Ibu yang tampak begitu tua, menatapku. mencoba menunjukkan senyum di wajahnya. Tapi dia tampak begitu rapuh dan lemah. Aku menatap ibuku dengan air mata mengalir. Hatiku sangat sedih melihat ibuku dalam kondisi seperti itu. Tapi ibu dengan sisa tenaganya mengatakan "Jangan menangis sayangku. Aku tidak sakit" Itulah kebohongannya yang Kedelapan.
    Setelah mengatakan kebohongannya yang ke delapan, Ibu menutup matanya untuk selamanya.

    Related Posts
    Disqus Comments